Selasa, 24 Oktober 2017

Bukan Mendewakan

Terlalu inginkan memuji, sumpah memalukan
Kepingan pikiran dengan arti seakan menerangi
Cerdik berkata dalam damai
Seolah pertanda bahwa semuanya berlebihan

Hendak berjalan beriringan tanpa arah tujuan
Terlalu inginkan memuji, seperti dawai yang terurai tanpa gitar
Apa yang ingin ku dengarkan? jelas takkan ada harmoni nada-nada indah

Selalu saja menjadi penantang perbedaan
Mungkin itu yang terfikir oleh naluri hati
Terlalu inginkan memuji, insting yang berkata dalam ramai
Jelas selalu menguatkan
Aku yang benar melupakan hilaf, melupakan mau mu dan mau mereka

Aku merasa buta, tidak melihat setitik cahaya yang menghibur dalam relung beku ini
Hampir saja melupakan kebenaran
Menunggu gadis itu menopang kembali hati yang luka
Terlalu inginkan memuji, sampai hampa kini yang mulai berseri

Sabtu, 08 Juli 2017

Bukan Saat Ini

Pernah ku melihat matahari secara terbuka
Aaah ternyata memang menyilaukan
Oh begitu

Pernah ku menatap bulan tak seperti ku menatapnya (matahari-Nya)
Hmm, memang tak bisa
Tak bisa benar-benar menyerupainya

Seperti tetesan air di dedaunan akibat hujan malam ini
Menetes dan membaur bersama air kolam
Ikan mas berenang melupakan godaan air hujan turun

Bukan saat ini saja merasakan hal yang benar-benar berbeda
Ini selalu berulang-ulang layaknya hari yang datang tanpa mesti dinanti
Apa yang ku lihat dalam matahari tak benar-benar terdefinisikan
Apa yang ku tatap dalam bulan seperti hanya dalam buaian

Ketika ku berlari menunggu matahari terbenam
Keringat terasa mengalir tak seperti biasanya
Sama seperti sebelumnya, setelahnya semua teringat kembali
Bahkan hampir terlupakan menatap bulan yang dinantikan malam ini
Bukan tentang indah surga atau wangi semerbak mawar
Malam ini, bukan saat yang tepat menantikan sinar surya
Hanya perlu bersyukur dan berdo'a esok kan hadir kembali
Dan...
Dan jelas bukan saat ini

8 Juli 2017
23.26

Selasa, 11 Oktober 2016

Ada Apa dengan Bintang ini?

15-10-2013

Ada apa dengan bintang ini? 
Apa hanya karena kabut malam yg tebal menjadikannya meredup? 
Apa gerangan yang membuatnya tampak hilang malam ini 
Seolah malam ini kurang begitu sempurna 

Ku titipkan do'a kepada hati dan ucapan untuk disampaikan kepada Tuhan 
Bahwa sungguh aneh malam yang meredup 
Setelah siang ditempa panas dan kegersangan 
Seolah dahaga tak bisa dikalahkan

Ingin rasanya berteriak, " tolong kembalikan cuaca ini seperti dahulu!"
Saat tumbuhan masih bersahabat dan memberikan kesegaran disetiap hembusan nafas ini
Memberi kesuburan dan kesejahteraan di tanah ibu pertiwi
Semuanya terasa indah dan nyaman
Sungguh indah dan nyaman

Satu masa mungkin akan terulang kembali, masa yang indah seperti saat dulu alam masih bersahabat
Tentunya kepada hati dan nurani
Meskipun alam pikiran sama sekali enggan mensyukri semua nikmat itu
Sama halnya yang terjadi seperti sekarang ini
Seolah bintangpun melakukan hal yang sama
Mulai memberi keredupan dan enggan menerangi malam ini
Menerangi malam untuk serlalu bersua dengan hati tenangku
Hati kecilku, sanubariku...

Apa yang terjadi mungkin takkan terulang kembali
Satu sisi dalam sudut kontradiksi keinginan dan kenyataan
Masalah yang berbicara

Mari serahkan semuanya kepada tangan-tangan yang memiliki jiwa suci
Sama seperti dulu
Dan berharap itupun menghinggapiku
Tuhanku, aku memohon ampunan atas setiap nista dosa

Kembalikanku seperti semula
Amiiiiin

Muhasabah : "Sesuatu yang Terlupa Akibat Kesedihan"


18 Juli 2014 

Tangan ini mungkin sudah lupa membuat "catatan" di sini 
Ah, tapi apalah arti sebuah usang ini jika tetap saja dibiarkan seperti ini 
Sulit rasanya memulai, tapi keinginan hati sangat kuat untuk memulainya 
Hanya saja terbaik dimulai dari mana, akan ku coba memulainya 
Sang pemulai 

Derita hati karena kepergian memang sangat menyesakkan
Terlebih jika itu adalah kesempatan terakhir yang amatlah penting
Semuanya hanya membuat gusar dan kekhawatiran hadir

Saat Tuhan memberiku dua pilihan yang sangat sulit
Berharap salah satu dari pilihan itu dapat terkabul
Mungkin bisa merubah hari ini
Kedua pilihan yang diberikan Tuhan sangatlah sulit untuk dijawab
Namun pada akhirnya satu pilihan sudah ditetapkan untuk diperjuangkan
Mungkin 'iya' berhasil, tapi saat itu juga aku kehilangan separuh dari nyawa itu
Pada akhirnya Tuhan punya rencana lain, Dia Yang Maha Menguasai lebih memilih untuk tidak mengabulkan kedua pilihan tersebut
Mungkin sejak saat itu hamba didekatkan dengan sesuatu yang kan menjauhkan antara hamba dengan Sang Pencipta

Kesedihan pun mulai tampak, sekalipun diiringi rasa syukur atas nikmat ini
Apa yang dimaksudkan sebagai "Nafs Al-Mutmainnah" tidaklah benar nyata dalam diri ini
Sesuatu yang menggelantungi pikiran dan jauh dari ketentraman
Dengan jalanMu (lagi), mencoba untuk bermuhasabah kembali untuk mendapatkan kemustajaban do'a dan keinginan
Dan tanpa daya upaya setiap niat perubahan tanpa perjuangan yang haq
Sesungguhnya apa yang telah dilupakan akan menjadi sebuah ingatan dan kemudian akan memberikanmu jalan ke dalam dua pilihan
Kelak hasilnya kan diketahui di masa depan

Sabtu, 30 April 2016

PERTIMBANGKAN

Mentari dan sinar selalu tampak bersama
Tak terpisahkan
Sejatinya itulah sedikit makna berpasangan

Terbawa aroma perasaan saat menatap keduanya
Selalu bersama seperti satu paket kemasan
Hal seperti itu yang masih ku rindukan untuk tetap tinggal bersamanya

Dahulu dimulai dengan sebuah keinginan dan kegigihan
Banyak hal yang diperjuangkan meski berderet noda
Noda kesedihan dan kebisuan

Segala hal berdiri memiliki tema tersendiri
Loyalitas termasuk didalamnya
Aku mulai merasa setiap kesalahanlah yang menjerumuskan

Begitu sulit mempertimbangkan antara keinginan dan kenyataan
Sejatinya adalah dua hal yang bertentangan
Jujur saja belum cukup untuk menyempurnakannya

Seolah setia adalah lambang kesempurnaan
Simbol dari cahaya yang paling bersinar
Tak lekang oleh malam dan kegelapan

Perasaan yang mulai dihanyutkan oleh keyakinan tak berujung
Halnya keadaan tanpa dilengkapi setiap kebutuhan-kebutuhannya
Akan terasa sulit

Untuk meyakinkan hati, banyak hal yang harus terjadi
Satu sisi menjadi sebuah kebanggaan
Di sisi lainnya menjadi sebuah hal dilematis

(Ciamis, 30 April 2016)

Rabu, 11 Maret 2015

Tia Nurjannah Dalam Sudut Pandang Seorang Kakak Lelaki III: Jengkol



Dinamika kehidupan seorang kakak-adik tentu sangatlah wajar dalam perjalanan hidup yang dilewati. Kebahagiaan kami bukan berlandaskan kepada jalan pemikiran yang sama, intensitas kerukunan yang terjaga atau pun dalam persamaan keinginan semata. Tentu sangat manusiawi jika saya dan adik tercinta itu bagaikan “Tom and Jerry”, tak pernah akur, selalu membuat onar, ribut karena bertengkar, dan bersaing “keras” satu sama lain. Dalam hal tertentu kami terbiasa kompak meskipun secara tidak disengaja. Justru keceriaan kami lahir setelah melalui serangkaian “keributan dan perbedaan yang ada.

Kami berbeda dalam banyak hal, tapi tak semuanya menjadikan hal yang majemuk. Dalam beberapa kondisi kami dibuat menjadi suatu yang sama. Ya, tentu pasti ada hal yang sama yang kita sukai. Yang kita lakukan. Ini bukan sebagai pencitraan semata, melainkan memang fakta hidup. Dan itulah yang kami sebut kebahagiaan yang sebenarnya. Kami selalu bersyukur untuk itu.

Memasak adalah salah satu pekerjaan yang biasa saya lakukan, baik sekedar untuk diri sendiri atau pun untuk semua anggota keluarga yang ada di rumah. Dia yang terlihat tomboi memang tampak selalu malas jika disuruh untuk mencuci piring dan sejenisnya. Tapi tidak, saat saya menyuruh dia berbagi tugas dalam memasak satu hal yang sangat favorit. Dia selalu bertugas mengiris jengkol dan menghaluskan bumbu jengkol tersebut, sedangkan saya menggoreng jengkol kemudian menggoreng bumbu untuk masakan favorit itu. Ya, kami sebut masakan itu “Jengkol Bumbu Bali”. Masakan itu memang selalu dibuat sangat pedas sesuai selera kami, saya dan adik terkasih. Seperti biasa dia itu bawel, selalu banyak bicara ketika saya sedang memasak. Tidak bisa dipungkiri kami selalu berebut makanan untuk kloter kedua, dan yang membuat kami seolah menjadi musuh. Kadang menjadi sebuah penyesalan ketika saya membuat dia menangis atau kesal karena ulah saya yang tidak pernah mau mengalah soal masakan dengan adik saya. Tentu saja perbuatan kami selalu mendapat marah dari seorang mamah kami yang tercinta. Tapi kami tetap saja mengulangi kegiatan rutin memasak bersama, meski sudah pasti ada pertengkaran di setiap ujung cerita.

Saat ini, setelah lepas 11 bulan tanpa adik di sisi saya, seorang kakak ini tidak lagi mendapatkan kenikmatan saat makan masakan favorit kami. Jujur saya harus akui banyak sekali kebahagian yang tidak bisa saya temui tanpa dia. Saat saya mendapatkan sesuatu yang sangat disukai oleh dia tentu hati ini terasa perih bahkan kadang tidak terasa air mata sampai menetes karena ingin memberikan hal tersebut kepada adik tercinta, tapi sayang kenyataannya memang dia tidak lagi di sisi saya. Saya hanya bisa menyendiri untuk menyembunyikan rasa kesal dan sedih ini.

Harus saya ulangi, hal yang membuat kami kompak dan bahagia bukan sesuatu hal yang besar ataupun sulit. Hanya sebuah masakan dari bahan yang banyak orang tidak menyukainya justru membuat kami menjadi pasangan kakak adik yang erat. Ya, itu hanya masakan dari berbahan utama jengkol. Mungkin banyak orang yang tidak percaya itu. Tapi itu dasar untuk kami dalam menjalin kerja sama dan menjaga kesatuan hubungan yang harmonis.

Sangat sederhana, tidak seperti hubungan dalam kehidupan lainnya kami memang terasa sangat rumit dan bahkan “mencekam”. Untuk yang kami sebut jengkol, saya ucapkan terima kasih. Dia yang bahagia di sana pasti memberi sebuah senyuman untuk tulisan sederhana ini.

Selasa, 10 Maret 2015

Tia Nurjannah Dalam Sudut Pandang Seorang Kakak Lelaki II : Pasti Bisa!!!

Dia sangat periang, akrab dengan siapa saja. Tentu menjadikannya memiliki pangalaman sosial yang baik. Selayang pandang mata seorang kakak, dia sangat dekat dengan teman sebayanya baik teman sepermainan ataupun teman sekolahnya. Banyak harapan yang dipertaruhkan orang-orang terhadap dia. Dan mungkin, sebagai seorang kakak pun memiliki harapan untuk dia agar bisa menjadi lebih baik, lebih hebat dibanding semua kakaknya. Dan saya berharap begitu. Selalu begitu.

Mengawali hari selalu oleh pagi yang ceria. Pagi saat terbangun tampak dia tidak berada di rumah. Ya, dia sedang mengikuti LT Pramuka tingkat Gugus Depan/Sekolah. Rasanya dia menghilang sudah 2 hari. Kesibukan kadang membuat seorang kakak melupakan adik di sekitarnya. Dia sedang bersenang-senang bersama semua temannya.

Seperti biasa, bila rumah tampak gaduh/ramai pasti dia sudah pulang. Memang "Si Bawel" itu selalu berisik. Baru sampai rumah belum juga ganti pakaian atau beres-beres dia sudah bercerita dengan antusias apa yang dia alami di kegiatannya itu. Sesuatu yang berisik untuk didengarkan, tapi dia sangat bahagia dan terlihat berseri-seri saat bercerita.  Wajahnya masih terlihat dekil, tampak perubahaan warna kulit yang semakin menggelap. Pengalaman yang dia dapatkan sebanding dengan perubahan kulit coklatnya itu. Paras aslinya tentu memiliki kulit kuning langsat dengan ciri khas rambut lurus pendek yang pirang. Sangat berbeda dengan kakak lelakinya itu. Dia selalu berceloteh bahwa saya itu mirip kambing karena rambut saya memang bergelombang alias agak keriting. Celotehan dan bercandanya dia saaat baru pulang tentu mendapat balasan yang "kejam" juga dari kakaknya itu. De Tia memang sangat senang bercerita, dan saling mengejek dengan saya satu sama lain.

Suatu waktu dia mendapat kepercayaan untuk menjadi Calon Ketua OSIS di Sekolahnya, jelas dia pasti bertanya tentang visi, misi, tujuan serta program kepada orang yang memang lebih cerdas dari siapa pun. Sudah pasti saya orangnya. Dia dengan manja merengek untuk mendapatkan semua yang dia mau, meski akhirnya saya memberi tahu dia tapi tentu tidak dengan gratisan. Apa yang saya minta sebagai "harga mati" tentu bukan uang. Saya hanya minta dia berkomitmen dengan "wadah" yang dia jalani. tirulah kakaknya itu. Setiap waktu dia menghafal semua kata-kata dalam visi, dan misinya sebagai calon ketua OSIS. Dia memang terlihat lebih susah dibanding saya ketika seusianya dahulu. Saya selalu "keras" dalam memberi wejangan terhadap dia, dan dengan penuh rasa syukur dia menuruti apa yang saya katakan. Saya tidak berharap dia menang, karena saya lebih berharap dia memiliki komitmen dan loyalitas sehingga mendapat kepercayaan dari pihak manapun. Dan akhirnya Pemilihan Ketua OSIS pun tiba. Saya diberi tahu hasilnya oleh adik kesayangan itu saat dia tiba di rumah. Dia tidak terlihat sedih atau kecewa, tapi yang saya lihat dia sangat semangat menatap jabatannya sebagai Wakil Ketua OSIS. Yaa, dia kalah dalam Pemilihan Ketua OSIS tersebut. Alhamdulillah

Satu periode telah dia jalani, dia tampak berubah lebih baik. Memiliki pengetahuan lebih banyak lagi, semakin pintar dalam menatap masalah sosial yang hadir dalam organisasi yang dia ikuti. Saya tahu dia pasti bisa. Terkadang curhat atau curcol selalu menyelinap di sepanjang waktu yang bergulir dalam perjalanan karir organisasinya.

Keberhasilan yang dia gapai tidak dapat dimengerti oleh siapa pun terkecuali saya, dan teman karibnya. Tidak ada ucapan yang sesuai dan lebih indah untuk bisa dideskripsikan ke dalam tulisan ini.
Luar biasa, sangat bangga menjadi seorang "Penasehat" dari seorang anak gadis belia yang bernama Tia Nurjannah. Dia selalu melampaui batasan dari kemampuan yang dia miliki, sama halnya seperti Si Bengal Kakaknya. Sangat persis dalam "memaksakan" kehendak untuk bisa berdiri di luar batas kemampuannya.
Cinta yang saya miliki untuk dia memang tidak terlihat oleh tindakan kasih sayang, tapi yang saya tahu saya memberikan cinta dengan penuh perhatian dan perlindungan serta tindakan tegas. Agar dia mengerti.
Yaa, dia memang bisa berjalan sendiri. Dia luar biasa.

I love you so much, my sister

Masam

Banyak hal terucap meski masih banyak tanya Ibarat kata bermakna yang kosong Terjadi banyak persinggahan dalam berfikir Berucap menjadi kelu...